Tag

, , , , , , , , , , ,

“Aaaaaa!!!! Aku senang sekali, besok adalah hari valentine”, Kayla berteriak di meja makan.

“Lalu?”, sahutku dengan sinis.

“Ah, itu bukan urusanmu bodoh!”, jawab Kayla.

“Sudahlah, ayo cepat kalian pergi ke sekolah nanti kalian terlambat!”, seru ayah.

Aku dan Alaric pun segera berdiri dan menuju keluar rumah, dan menuju ke garasi. “Ayah, hari ini aku pakai mobil yang ini ya?”, seru Alaric sambil mengambil kunci mobil Cadilac berwarna silver di dinding. Alaric segera menginjak gas, dan kami menuju ke sekolah.

Saat sampai di sekolah, aku dan Alaric berpisah di depan pintu ruang kelasku. “Hey, sampai nanti ya!”, seru Alaric.

Suara bell berbunyi, anak-anak pun segera memasuki ruang kelas. Seperti biasa, aku duduk di sebelah Cloud dan Yurin. Tidak lama kemudian, tuan Arthur memasuki ruang kelas. Ini adalah kelas biologi.

“Baik, selamat pagi anak-anak, untuk materi kali ini saya akan membagi kalian dalam kelompok-kelompok. Silahkan kalian buat kelompok kalian sendiri, tiap kelompok terdiri dari 4 orang”, ucap tuan Arthur.

Sementara orang lain sibuk mencari kelompok, aku hanya diam saja, karena aku belum terlalu banyak mengenal orang-orang disini.

“Hey! Ada yang mau menjadi kelompokku?”, Cloud berteriak-teriak mencari kelompok. Tetapi disana tidak ada seorangpun yang menghiraukannya.

“Hah! Memangnya siapa yang mau satu kelompok dengan orang aneh sepertimu?!”, ucap Yurin dengan sinis.

“Kau ini! Coba lihat saja dirimu, memangnya ada yang mau sekelompok dengan mu?”, bals Cloud. Dari tadi Yurin memang hanya diam saja di kursinya.

“Aku selalu bisa mengerjakan semuanya sendirian!”, balasnya.

“Ingat! Dalam tugas kali ini, kalian harus bekerja dalam kelompok. Saya tidak mau menerima tugas yang bukan dikerjakan bersama kelompok!”, tuan Arthur mengigatkan.

“Hah! Dengar itu!”, Cloud meledek Yurin dengan puasnya.

“Hey kau anak baru! Kau masuk ke dalam kelompokku!”, ucap Yurin kepadaku.

“Kau kira kau ini siapa? Seenaknya saja memutuskan! Tentusaja El akan masuk kedalam kelompokku!”, jawab Cloud sambil menepuk pundakku. Tentu saja aku menhindarkan pundakku untuk melepaskan tangannya.

“Hey! Sudah tidak usah rebut, kalian ber3 adalah 1 kelompok.”, seru tuan Arthur.

Sementara itu di kelas matematika Alaric….Geng Forbes duduk disebelah Alaric. “Hi! Kenalkan, namaku Forbes. Namamu siapa?”, bisik Forbes mengajaknya berkenalan.

Alaric memandang dengan dingin kepadanya, sambil berkata.

“Kau ini pacarnya anak  yang kemarin memukuli adikku kan?”, jawab Alaric sambil memalingkan wajahnya dan melanjutkan menulis.

“Pacar? Aku sudah putus dengannya”, jawab Forbes.

“Sudahlah, apa peduliku? Diam dan perhatikan pelajarannya!”, jawab Alaric dengan sinis.

Terlihat Barbara dan Brittany mentertawakan Forbes. “Apa yang kalian tertawakan?”, bentak Forbes.

“Ah, sialan! Tidak pernah ada yang mengabaikan aku seperti ini. Pokoknya besok dia harus menjadi pendampingku di pesta!”, ucap Forbes di dalam hati.

Mendengar apa yang ada di dalam pikiran Forbes, Alaric langsung memandangnya dengan sinis. Lalu Forbes tiba-tiba tersenyum centil kepada Alaric.

Bell tanda kelas sudah selesaipun berbunyi. Semua anak segera keluar dari ruangan. Saat keluar ruangan, didepan pintu kelas Alaric sudah ada Ethan menunggu Forbes. Saat Forbes keluar, Ethan langsung merangkulnya dengan mesra.

“Katanya sudah putus?!”, ucap Alaric dengan sengaja saat berpapasan dengan mereka.

“apa maksudmu?!”, sahut Ethan dengan emosional.

“Sudahlah, jangan dihiraukan”, Forbes menahan Ethan.

Alaric sampai di depan pintu kelasku.

“hai, kau Alaric kan? Kenalkan aku Yurin, temannya Eleazar”, sapa Yurin dengan genit.

“Ah, bohong! Bahkan mereka baru berbicara tadi pagi”, sela Cloud. Alaric hanya tersenyum dingin kepadanya.

“Ayo kita ke kantin!”, ajakku.

Kami pun segera menuju ke kantin. Sambil mengambil makanan, Alaric bertanya kepadaku, “bagaimana tadi di kelas?”.

“kami membuat kelompok belajar, tidak ada yang menarik. Bagaimana denganmu?”, jawabku.

“Nothin’ special. Forbes mengajakku berkenalan, tapi aku tidak tertarik”, jawab Alaric.

Kamipun menuju meja yang kosong. Saat kami sedang makan, tiba-tiba Kayla datang dan duduk disebelah Alaric.

“Hey! Mau apa kau kesini?”, ucapku dengan sinis.

“Kenapa memangnya? Sekolah ini bukan punya ayahmu!”, balas Kayla.

Cloud tiba-tiba tertawa. “hahahhahaha,,, bukankah ayah kalian sama?”.

Aku dan Kayla memandang Cloud dengan aneh. “lalu?, apa yang lucu?”.

“Oh my God! Apa dia menuju kemari?”, Kayla langsung mengambil cermin dan membetulkan rambutnya.

Terlihat seorang lelaki berjalan mendekat membawa nampan makan siang.

“Boleh aku duduk disini?”, dia bertanya kepada Alaric.

“Oh, tentu saja boleh!”, jawab Kayla, sambil mengeser tempat duduknya.

“Terimakasih”, jawabnya. Sambi memandang aneh kepada Cloud.

“Kenapa? Ada yang salah?”, ucap Cloud kepadanya.

“Kau ii anak aneh itu kan?”, Tanya Alecto.

“memangnya kenapa? Ada masalah dengan mu? Kalau ada, jangan duduk disini!”, jawab Cloud dengan kesal.

“Oh, tidak apa-apa”, jawab Alecto.

“oh iya, kenalkan namaku Alecto”, dia menjulurkan tangannya kepada Alaric.

Tiba-tiba Kayla mengambil tangan Alecto.

“Hi, aku Kayla adiknya Alaric”, jawab Kayla.

“Dasar genit!”, bisikku dengan agak keras.

“Jadi manamu Alaric?”, Tanya Alecto.

“Iya”, jawab Alaric dengan ramah.

“Baiklah, langsung saja. Sebenarnya aku ingin mengajakmu untuk bergabung dengan tim Football kami. Kau mau kan?”, ajak Alecto.

“Tentu saja dia mau!”, jawabku memotongnya.

“Hey! Aku belum mengatakan iya.”, jawab Alaric.

“Bilang saja iya Alaric. Tidak mudah untuk masuk ke dalam tim ini”, tambah Cloud.

“Iya, benar kata si Clour ini”, Alecto menambahkan.

“Hey! Namaku Cloud!”, ucap Cloud dengan kesal.

“Yah, apapun itu. baiklah aku harus pergi. Ini nomorku. Kalau kau tertarik, hubungi aku ya”, ucap Alecto.

“Aku pasti akan menghubungimu! Eh, maksudku, aku pasti akan membujuk Alaric”, jawab Kayla sambil mengambil kertas dari Alecto.

Alecto tersenyum kepada Kayla, dan pergi menemui teman-temanya.

“kau ini genit sekali! Seharusnya kau agak jual mahal!”, ucap Alaric kepada Kayla.

“Ah, biar saja. Aku kan butuh teman untuk pergi ke pesta besok! Memangnya si bodoh itu? Yang setiap tahun membujukku untuk membuat duplikatku menjadi temannya ke pesta dansa?”, ucap Kayla sambil meledekku.

“kau juga selalu memakai duplikatmu sebagai temanmu ke pesta dansa untuk mengelabui orang orang!”, aku membalas.

Kami pun segera pergi keluar dari kantin, dan berjalan menuju loker kami. Saat kami berjalan di lorong, wanita-wanita yang ada disana melirik kepada kami. Oh, jadi itu murid baru yang dibicarakan orang orang? Dia sangat tampan!!!. Itu yang aku dengar dari salah satu pikiran para wanita-wanita itu.

Dan para pria pun melirik Kayla. Dengan gayanya yang memuakkan itu, Kayla berjalan seolah dia itu adalah wanita paling sempurna yang ada di ruangan itu (tapi memang iyah).

Saat membuka loker, banyak sekali kartu ucapan Selamat Hari Valentine dengan coklat, dan ajakan untuk pergi ke pesta dansa untuk Alaric.

“Apa ini?”, ucap Alaric sambil mau membuang kartu-kartu itu.

“Hey! Apa uyang akan kau lakukan?! Jangan kasar seperti itu. Kalau kau mau membuangnya tolong jangan disini. Pikirkan perasaan mereka”, aku dan Cloud mengambil kartu-kartu dan coklat itu. Sementara Cloud sibuk mengambil coklat-coklatnya dan memakannya.

“Baiklah, kalau kalian suka ambil saja semuanya”, ucap Alaric sambil menutup kembali lokernya setelah mengambil bukunya dari loker.

Kami segera menuju ke mobil, untuk kembali pulang.

“Hey, bagaimana tentang ajakan Alecto? Apa kau tertarik?”, tanyaku kepada Alaric.

“Entahlah”, jawab Alaric sambil menyalakan mesin mobil.

“Ayolah, ini kesempatanmu untuk berbaur dan mempunyai teman manusia”, bujukku.

“Baiklah, aku akan mencobanya”, jawab Alaric.

“kalau begitu, aku akan menyuruh Kayla menghubungi Alecto”, ucapku.

Aku langsung mengirim SMS pada Kayla “bilang pada Alecto, Alaric mau bergabung”.

Pada saat itu, Kayla yang sedang bersama Alecto, langsung mengatakannya pada Alecto. “Hey, ada kabar baik, Alaric mau bergabung!”, ucap Kayla.

“Bagus sekali! kalau begitu, katakana padanya untuk bersiap mengikuti tes dari pelatih besok”, jawab Alecto.

“baiklah, aku pulang duluan ya. Aku ingin mengatakannya kepada Alaric”, balas Kayla.

“Hey, tunggu!, maukah kau menemaniku ke pesta dansa?”, Tanya Alecto.

“Aaaaaaahhhhhhh!!!!! Aku senang sekali!!! Rasanya aku ingin melompat-lompat. Tapi kata Alaric aku harus agak jual mahal!” itulah yang ada didalam pikiran Kayla.

“Hmmm,,, baiklah, kita lihat saja besok”, jawab Kayla dengan jual mahal sambil berharap.

Akhirnya aku sampai juga di rumah. Saat memasuki kamar, di kasurnya Alaric banyak sekali kartu ucapan.

“Alaric, tadi pagi ada kiriman dari teman-teman wanitamu di dunia Diablo”, ucap ibu memberi tahu.

Wah, dikasurku juga ada kartu ucapan!

“Dan El, itu ada kartu ucapan dari bibi Minaj”, ibu menambahkan.

“Ah, aku kira dari siapa???”, jawabku dengan agak kecewa. Selalu saja begini, setiap tahun wanita yang memberikan kartu ucapan hanya Ibu dan bibi Minaj saja.

Alaric melepaskan tasnya dan meletakkannya diatas kasur. “Naira! Ayo kemari!”, Alaric memanggil Naira  ke kamar kami. Naira memang sangat senang ketika membuka kartu-kartu ucapan ini.

WOW! Hha… saat dibuka, kartu-kartu ini ada yang mengeluarkan kue coklat yang sangat besar dan indah, ada yang bisa bernyanyi, bahkan ada juga peri yang keluar dan menari-nari. Naira terlihat sangat senang ketika membuka karti-kartu ini.

“hha.. naira kau senang?”, tanyaku.

“iyah, tentu saja!”, jawab Naira dengan peniuh semangat.

“Naira, apakah kau juga mengirimkan kartu untuk seseorang?”, Tanya Alaric.

“Iyah, aku mengirimkan kartu buatanku sendiri untuk Joaquin”, jawab Naira.

Saat makan malam, kami berbincang tentang hari ini.

“Apakah ada hal yang menarik hari ini?”, Tanya ayah kepada kami.

“Hha,,,, Kayla punya pacar baru yah!”, ucap Naira sambil tertawa.

“Hey! Tidak sopan membaca pikiran orang lain tanpa izin!”, ucap Kayla kepada Naira. Wajah Kayla memerah.

“Ayah, Alaric akan masuk ke tim Football”, ucapku.

“Benarkah? Itu hebat”, Tanya ayah.

“Ah, biasa saja lagipula aku tidak terlalu tertarik”, jawab Alaric.

“Alecto mengatakan, besok adalah tes seleksinya”, ucap Kayla memberi tahu.

“Oh, jadi Alecto nama pria itu?” ucap ibu sambil menggoda Kayla.

“Ah, sudahlah jangan membicarakan itu”, Kayla tersipu malu.

Tiba-tiba peri dari gelangku yang diberikan oleh Joaquin tiba-tiba saja keluar. Dan muncul hologram Joaquin di tengah meja makan kami.

“Hi Ka El! Eh, maaf aku mengganggu makan malam kalian. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada Naira, terimakasih atas kartunya”, ucap Joaquin.

“Sama-sama Joaquin, aku membuat kartu itu sendiri”, jawab Naira dengan bangga.

“Ah, iyah aku menyukainya”,balas Joaquin. Lalu muncul paman Enrique. “Hi! Selamat malam, maaf Joaquin mengganggu waktu makan malam kalian. Aku menyuruhnya mengucapkan terima kasih kepada Naira. Hey El! Ternyata Joaquin memberikan gelang itu kepadamu? Jaga gelang itu dengan baik ya!”seru paman Enrique.

Maaf telah mengganggu makan malam kalian”, ucap Joaquin

“Ah, tidak apa-apa, kami senang kau mau menghubungi”, jawab ayah.

“baiklah, sampai jumpa”,balas Joaquin.

Peri dari gelangku pun segera kembali. Sebenarnya aku masih tidak mengerti bagaimana cara menggunakannya. Setelah makan malam selesai, kami segere menuju ke kamar dan tidur.

—ooo000ooo—

Terlihat Kayla baru sampai di sekolah, dan turun dari mobilnya dengan sunroof  yang terbuka. Tidak lama kemudian Alecto menghampiri Kayla.

“Hai! Bagaimana? Apakah kau mau pergio ke pesta denganku?”, Alecto menanyakan pertanyaan yang kemarin.

“Hmmm,,, setelah aku pikir-pikir, aku mau pergi bersamamu”, jawab Kayla.

Mereka berjalan bersama menuju kelas. Kami berpapasan di lorong sekolah.

“Hey! Alaric, jangan lupa seleksinya jam 1 siang ini jangan terlambat ya”, ucap Alecto.

“Tenang saja, aku akan memastikannya”, jawabku meyakinkan.

Akhirnya kelas selesai, waktu menunjukkan pukul 12.45, aku dan Alaric segera menuju ke lapangan football. Disana sudah ada Alecto bersama Kayla menunggu kami. Kami duduk dibangku pemain cadangan.

“Hey! Mau apa kau kesini?!”, ucap Ethan kepada kami.

“Menjauhlah dari mereka! Mereka akan mengikuti seleksi “, ucap pelatih Paul.

Ethan dan gengnya pun pergi. Dan pelatih menyuruh kami untuk segera mengganti pakaian.

“maaf, sebenarnya hanya Alaric saja yang akan mengikuti seleksi. Aku hanya mengantarnya saja”, ucapku kepada Paul.

“Tidak, sebenarnya dia juga akan mengikuti seleksi”, ucap Alaric.

Aku memandangnya “apa apaan kau ini? Aku hanya mengantarmu saja kan!”

“Hha,,,, aku tidak akan membiarkan kau membuatku bergaul dengan orang-orang ini sendirian, kau juga harus ikut”, balas Alaric berkata dalam pkiranku.

“Ah, terserah pada kalian saja. Ayo cepat ganti baju kalau kalian ingin mengikuti seleksi!”, ucap Paul.

Kami sudaj berganti baju, dan kembali ke lapangan. Wow! Tiba-tiba banyak para siswi wanita duduk di bangu penonton. Mereka pasti ingin melihat Alaric.

“ayo Alaric! Kau pasti bisa!”, ucap Cloud. Ah, ternyata Cloud yang memberitahukannya kepada mereka.

“Apa-apaan kau ini Cloud?!”, Tanya Alaric dengan kesal.

“Hey! Nona-nona! kalian mau mengobrol atau mengikuti seleksi?”, ucap Paul meledek kami.

Pertama giliran Alaric, dia bisa menendang bolanya langsung sampai masuk ke daerah lawan. Para penonton wanita pun berteriak kagum. Permainannya sangat sempurna sampai membuat Paul tidak percaya. Tentu saja karena Alaric sering berlatih dan dia adalah pemain terbaik di sekolah kami yang dulu di dunia Diablo.

“Hey! Sekarang giliranmu!”, ucap Paul kepadaku.

“Alaric! Tapi aku tidak bisa bermain ini!”, ucapku kepada Alaric.

“Permainanmu juga tidak terlalu buruk kan?”, jawab Alaric.

“Siap, tentang bolanya!”, Paul memberi aba-aba sambil meniup peluit di mulutnya.

Aku terkejut, bolanya melambung jauh sekali. Seperti tendangtan Alaric tadi. Ah! Kenapa bisa?! Padahal aku menendanganya pelan sekali. Pasti Alaric menggunakan kekuatannya.

“Baiklah, kalian berdua lolos seleksi. Datanglah setiap hari kamis jam 1 siang untuk berlatih! Jangan sampai terlambat jika kalian tidak mau terkena hukuman”, ucap Paul kepada kami.

“Baiklah! Semuanya segera mandi dan bersihkan diri kalian!”, ucap Alecto kepada semua tim.

“Kayla, aku akan menjemputmu pukul 7 malam ini”, ucap Alecto.

“Ah, jangan. Di keluarga kami tidak ada yang pernah membawa orang lain ke rumah. Kita bertemu di pesta saja, aku akan pergi bersama Alaric”, jawab Kayal.

“Hmm… baiklah, sampai nanti”, jawab Alecto dengan agak kecewa.

Kami smapai dirumah pukul 4 sore. Kayla membujuk Alaric untuk pergi mengantarnya ke pesta itu.

“Ayolah Alaric, aku mohon kepadamu… antarkan aku!”, Kayla memohon mohon.

“Aku tidak mau, pasti nanti disana banyak para wanita-wanita yang menyebalkan. Apalagi si Forbes itu!”, Alaric menolak ajakan Kayla.

“Ajak saja Adriana ke pesta itu, pasti tidak akan ada gadis yang berani mendekatimu. Adrianakan sangat cantik”, aku memberi saran.

“Tidak bisa, dia sedang pergi ke Bulgaria dengan Joaquin”, jawab Alaric.

“Baiklah, kalau begitu aku akan membuatkan duplikat Adriana untukmu! Bagaimana?”, ucap Kayla menawarkan.

“Bilang saja iyah, lagipula kau kan belum pernah pergi ke pesta manusia”, bujukku menambahkan.

“Baiklah, tapi kau harus ikut El!”, ajak Alaric.

“Apa?! Aku tidak punya pasangan untuk pergi kesana!”, jawabku menolak.

“Kalau begitu Kayla akan membuatkan duplikat Shaniqua untukmu!, bagaimana? Kau mau kan?”, Alaric menawariku.

“Apa?!”, aku terkejut, kenapa Alaric masih ingat dengan Shaniqua?

“Terserah padamu saja”, jawabku pasrah.

“Kalau begitu, aku akan bersap-siap. Kalian juga, berdandanlah yagn keren. Terutama kau Bodoh! Jangan membuatku malu ketika berjalan bersamamu!”, ucap Kayla.

Kami pun segera bersiap siap. Di dalam kamarnya, Kayla menduplikat dirinya menjadi 3. Duplikatnya yang ke1 berubah menjadi Adriana.

“Kau, berdandanlah seperti ini!”, ucap Kayla kepada duplikatnya yang pertama sambil menunjukkan foto Adriana yang diambil pada pesta minggu lalu di rumah kami.

“Dan untukmu! berubahlah menjadi kekasih si Bodoh!”, ucap Kayla kepada duplikatnya.

“Tapi aku lupa lagi seperti apa wajahnya?”, jawab duplikat Kayla.

“Hey Eleazar Bodoh!!!. Aku lupa lagi seperti apa wajah Shaniqua. Itu sudah lama sekali, pikirkan wajahnya dalam kepalamu, dan pegang tangan duplikatku ini!”, ucap Kayla.

Aku membayangkan wajah Shaniqua sebisaku. Dengan perlahan wajahnya berubah menjadi wajah Shaniqua yang ada di bayanganku.

“Sudah cukup. Ayo kembali ke kamarku, aku akan mendandanimu!”, ucap Kayla sambil menarik tangan duplikatnya.

Sementara itu, Alaric merubah penampilanku yang seperti biasanya. Aku menjadi terlihat seperti Alaric.

“Sudah selesai, ayo kita kebawah!”, ucap Alaric.

Kamipun menunggu dibawah.

“Hey Plastic! Ayo cepat!!!”, teriakku kepada Kayla.

Kayla pun turun bersama dengan duplikat Adriana dan Shaniqua.

“Wow! Hey bodoh. Kau terlihat agak lebih baik, kau terlihat seperti Alaric”, ucap Kayla.

“Tentu saja! Karena dia kan memang adikku”, ucap Alaric.

“Coba setiap hari kau bergaya seperti ini, pasti Shaniqua tidak akan pergi meninggalkanmu!”, ucap Kayla.

“ah, sudahlah cepat, nanti kita terlambat”, ucapku mengalihkan pembicaraan.

“Justru yang lama itu mendandani Shaniqua! Sulit sekali mengikuti gayanya. Apalagi aku sudah tidak melihatnya selama 5 tahun”, jawab Kayla.

Kami pun pergi ke pesta itu dengan menggunakan limo milik ayah. Saat kami keluar orang-orang disekitar langsung tertuju kepada kami. Mereka semua sepertinya terpesona dengan Alaric, dan dengan kecantikan Kayla, Adriana dan Shaniqua.

Alecto langsung menghampiri Kayla, dan mencium tangannya. Mereka langsung berjalan masuk ke ruangan pesta.

Alaric berjalan sambil merangkul duplikat Adriana. Terlihat perasaan kecewa dimata para wanita-wanita yang ada di pesta itu.

Aku berjalan menggandeng tangan Shaniqua palsu. Agak aneh memang rasanya, karena yang sedang aku gandeng ini sebenarnya adalah Kayla.

Saat kami memasuki ruangan pesta dansa, mata para lelaki yang sedang berdansa tertuju kepada kami. Mereka terpesona dengan kecantikan Adriana dan Shaniqua. Bahkan Ethan pun tanpa sadar sampai menginjak kaki Forbes saat berdansa.

“Bagaimana pekerjaan ku? Hebat kan?”, Kayla menyombongkan dirinya.

“Wow! Kau terlihat sangat kerenEl!”, ucap cloud menghampiri kami.

“Hha.. terimakasih”, jawabku.

Kamipun mulai berdansa menikmati alunan lagu yang dimainkan. Aku tidak berdansa, karena rasanya sangat menggelikan. Selalu terbayang di pikiranku kalau aku berdansa dengan Kayla.

Shaniqua palsu berdansa dengan Cloud. Hha,, tentu saja Cloud sangat senang sekali bisa berdansa dengan wanita secantik Shaniqua. Dan dia pun ingin membuat para lelaki yang sering mengerjainya menjadi iri.

Aku mengambil minuman, dan berjalan menuju ke balcon diluar. Aku meletakkan minumanku dan memanang bintang dilangit. Tiba-tiba aku melihat seperti ada Serpente dengan cepatnya melintas didepanku. Serpente adalah hewan pendamping milik Shaniqua. Akupun sontak langsung terjatuh katena kaget.

Tiba-tiba terasa ada sesuatu di dalam saku jas ku. Saat aku mengambilnya, ternyata itu adalah sebuah kartu. Dan saat aku membukanya “Hi! Eleazar!!! Ini Aku, apa kabarmu? I hope u’re Ok, I miss u I’ll meet u soon“, Aku terkejut tidak percaya sekaligus senang. Karena dari kartu itu keluar hologram Shaniqua.

“Itu dari Shaniqua?”, tiba tiba Alaric muncul bersama Adriana palsu dari belakangku.

“Ah, iya. Aku lupa aku ingin menanyakan dimana dia sekarang”, jawabku.

“Sudahlah, dia menghubungimu, berarti dia belum melupakanmu. Sekarang sudah terlalu larut, ayah sudah menyuruh kita pulang”, ucap Alaric.

“Kau benar juga”, jawabku sambil menyimpan kartu dari Shaniqua.

Kami pun mencari Kayla untuk segera mengajaknya pulang.

“Kayla! Ayah sudah menyuruh kita pulang”, ucap Alric kepada Kayla yang sedang asik mengobrol dengan Alecto.

“Ah, padahal aku sedang asik mengobrol dengan Alecto”, jawab Kayla mengeluh.

“Maaf ya Alecto, kami harus pulang duluan”, ucapku kepada Alecto.

“Baiklah, kalau begitu aku juga akan pulang. Sampai bertemu besok pagi ya Kayla “, ucap Alecto kepada Kayla.

Kami pun segera masuk kedalam Limo. Didalam aku berbincang dengan Alaric.

“Aku masih penasaran dimana Shaniqua sekarang?”, ucapku.

“Sudahlah, dia juga sudah memberimu kabar kan?”, jawab Alaric.

“Oh, tadi Shaniqua memberimu kabar?”, Tanya Kayla.

“Iya, Shaniqua menyuruh Serpente mengantarkan kartu kepada Eleazar”, jawab Alaric

“Kau ini memang bodoh! Kenapa kau tidak menggunakan peri yang ada di gelangmu itu untuk mengejar Serprnte?”, ucap Kayla memberitahuku.

“Apa? Memangnya bisa?”, aku bertanya.

“Tentu saja bodoh, dia bisa melakukan segala hal yang kau suruh! Tapi kalau mengejatnya sekarang, itu sudah terlambat”, ucap Kayla.

Aku sedikit kecewa, kalau saja aku tahu.

“Sudahlah, nati juga Shaniqua pasti memberimu kabar lagi”, jawab Alaric.

ooo000ooo*To be Continued*ooo000ooo