Tag

, , , , , , , , , , , , , ,

“Hey Kayla! Siapa nama pria tampan itu?”, Tanya Forbes.

Hah? Aku keheranan “untuk apa dia menanyakan tentang Alaric?jangan jangan dia menyukai Alaric.”,ucap Kayla dalam hatinya.

“iyah iyah, siapa namanya?”, tambah Vicky.

“Hey, Vicky! untuk apa kau menanyakannya juga? Dia itu milikku! Ayo Kayla, katakana padaku siapa namanya?”, balas Forbes.

“Iyah iyah, maaf kan aku, aku kan hanya ingin tahu saja”, jawab Vicky.

“Alaric”, jawabku sambil memakan makananku.

“Apa?”, Tanya Forbes dan Vicky sangat bersemangat, bersamaan.

“Namanya Alaric”, Kayla mengulanginya lagi.

“Hmm, namanya sangat keren!!! Seperti orangnya”, ucap Vicky sambil melihat kearah Alaric.

Tiba-tiba Alaric pun melihat ke arah mereka dengan pandangannya yang dingin.

“Aaaaaa!!! Ya ampun, dia melihat ke arahku!”, dia pasti terpesona saat melihatku tadi.

“Ya tuhan,,,, betapa menyedihkannya mereka ini???”, ucap Kayla dalam hati. Kayla hanya tersenyum saja kepada mereka.

KRINGGGG!!!!! Tiba-tiba bel sekolah berbunyi.

“Ayo El, kita harus segera menuju kelas matematika! Jika tidak kita pasti akan kena marah”, ajak Cloud.

“Aku akan menunggumu di depan pintu kelasmu sepulang sekolah”, beritahu Alaric kepadaku.

“hah? Tidak usah, tunggu di tempat parkir saja”, balasku.

“yah, baiklah kalau itu maumu, tapi ingat pesanku jangan terlalu dekat dengan manusi-manusia ini(suara Alaric memasuki kepalaku)”, balas Alaric.

“ayo El! Cepat!”, ajak Cloud sambil menarik tanganku.

Tiba-tiba aku merasa seperti ada sesuatu yang menyengat tanganku. Dengan cepat aku menarik tanganku melepaskannya dari Cloud.

“Hey! Kenapa kau ini?”, Tanya Cloud.

“Oh, nothing”, jawabku sambil tersenyum. Kami segera menuju kelas.

—ooo000ooo—

Akhirnya tiba juga waktunya pulang. Aku segera berlari menuju tempat parkir. Tapi saat di lorong tempat loker, ada anak laki-laki bertubuh besar menjegal kakiku sampai aku terjatuh. Aku langsung berdiri lagi, berjalan menuju tempat parkir dan mengabaikannya.

Tiba-tiba anak laki-laki itu menarik bahuku ke belakang, sampai posisi kami menjadi berhadapan.

“Hey! Kau anak baru ya?”, Tanya anak laki-laki itu.

“iyah, memangnya kenapa?”, jawabku. Tiba-tiba datang Cloud menghampiriku dari jauh. Aku melihatnya dibelakang anak laki-laki ini. Dengan isyarat dari mataku, aku menyuruhnya pergi. Karena aku akan baik-baik saja.

“Hey! Siapa yang kau lihat?”, Tanya anak lelaki ini.

“eh, nothing.”, jawabku.

“Karena kau anak baru, kau harus tahu peraturan disini. Kau harus mematuhi kami!”, ucapnya.

“Hah?! Memangnya siapa kalian?”, tanyaku dengan muka yang polos tidak tahu apa apa, sambil tersenyum.

“Wow! Ethan, berani sekali anak baru ini.”, ucap Navid yang berdiri di sebelahnya.

“Dia ini ketua tim football kami! Dia yang berkuasa di sini”, tambah Ron.

“lalu?”, aku bertanya kembali.

“Wah berani sekali anak baru ini”, aku mendengar orang-orang berbisik.

“Kau ini lancang sekali!”, ucap Ethan sambil menempelkan tubuhku ke loker.

“Tentu saja kau harus menjadi budak kami!”, jawab Ron.

“Bagaimana kalau aku tidak mau?”, tanyaku dengan polosnya.

“Kau ini!!!”, Ethan semakin naik darah dan mengepalkan tangannya ingin memukulku.

Tiba-tiba ada tangan yang menahan pukulan Ethan.

“Apa yang mau kau lakukan?”, Tanya Alaric pada Ethan, sambil memegang kepalan tangan Ethan.

“Tentu saja memukulnya! Kau ini buta?”, jawab Ethan.

“Sudah Alaric, jangan ikut campur. Biarkan aku yang menyelesaikannya”, ucapku kepada Alaric. Sebenarnya aku tidak ma uterus-terusan dilindungi oleh Alaric.

“Tapi dia ini sangat keterlaluan!”, jawab Alaric.

“hey! Kau juga anak baru kan?”, Tanya Ethan.

“Ayo Ethan! Hajar saja dia. Let he know who’s the bos?”, Navid mengompori Ethan.

Ethan memukul pipi Alaric dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya masih depegang Alaric. Alaric hanya melihatnya, sambil meremas dan memutar tangan kanan Ethan. Tiba-tiba Ethan kesakitan. Semua orang langsung memandang aneh.

Alaric langsung menarik tanganku dan berjalan menuju tempat parkir.

“Sudah kubilang! Jangan terlalu banyak menarik perhatian”, ucap Alaric.

“Tapi dia yang mulai! Dia membuatku terjatuh. Alaric, dari mana kau tahu aku akan dihajar oleh Ethan?”, tanyaku.

“Tadi Cloud membertahuku”, jawab Alaric sambil menyerahkan helm kepadaku.

“Kalau saja tadi kau tidak muncul, mungkin dalam keadaan terdesak kekuatanku bisa muncul”, ucapku kepada Alaric.

“Kalau iya, tapi kalau tidak bagaimana?”, balas Alaric.

“Kita tidak akan tahu sampai kita mencoba”, balasku.

“Sudahlah! Ayo cepat naik,” seru Alaric.

Aku menaiki motornya, dan menuju ke rumah. Aku heran, saat di depan rumah kenapa ada Warhol? Dan sepertinya di dalam rumah ramai sekali.

Warhol adalah makhluk sihir peliharaan pamanku.

“Alaric, kenapa ada Warhol disini? Apa mungkin paman Enrique dari Spanyol datang kesini?”, tanyaku.

“iyah aku ingat tadi pagi ibu mengatakan akan ada pesta keluarga disini, untuk tempat tinggal kita”, jawab Alaric.

Saat memasuki rumah, ternyata memang ramai sekali. Semua teman-teman ayah dan ibu datang. Bukan hanya paman Enrique saja, tapi juga ada bibi Minaj dari Mesir, Sultan dari Indonesia, Guevara, dan masih banyak lagi.

“Hai Alaric dan Eleazar! Sudah lama bibi tidak melihat kalian. Sekarang kalian sudah besar dan tampan, apalagi kau Alaric”, sambut bibi Minaj.

“Oh iya, sudah lama sekali yah”, balas Alaric.

“Ah, kenapa pipimu itu Alaric? Itu berdarah”, Tanya bibi Minaj sambil menyentuh pipi Alaric.

“Tadi disekolah dia berkelahi, karena menolongku”, jawabku.

“Kau ini El! Kenapa diberitahu?”, ucap Alaric.

“Ini harus disembuhkan. Jangan sampai ibumu melihat ini”, ucap bibi Minaj.

“Iyah, kalau ibu sampai tahu pasti akan repot”, balasku.

Bibi Minaj langsung mengambil pisau dari meja dan menggoreskannya ke tanggannya. Bibi mengambil sedikit darahnya dengan jari dan mengoleskanya pada luka Alaric. Dengan sekejap luka Alaric langsung hilang. Memang setiap perempuan dari keluarga kami bisa beregenerasi.

“Ayo-ayo, kalian harus cepat membersihkan diri dan bersiap untuk pesta. Kalian harus terlihat keren! Jangan sampai kalah dengan Chavez”, ucap bibi Minaj sambil mendorong kami berdua menuju ke kamar.

“Apa? Ada Chavez juga?”,tanyaku dengan kaget.

“Iyah, tentu saja. Semua keluarga kita ada”, jawab bibi.

Akhirnya aku telah selesai mandi dan berpakaian. Saat keluar dari kamar, tiba tiba ada yang melemparkan api kearahku, sedikit lagi saja akan mengenai wajahku.

“hahhahaah! Kau harus melihat wajahmu itu Eleazar!” terdengar suara tertawa yang sangat puas.

Suara itu, sepertinya aku kenal. Dan api itu??? Pasti si menyebalkan Chavez. Dari kecil dia memang sering menggangguku. Dan dia selalu mengalahkanku. Dia selalu senang kalau aku kalah darinya.

“Kau ini! Itu tadi sangat berbahaya! Bagaimana kalau tadi mengenai wajahku? Kalau terjadi apa apa denganku, kau pasti akan mati!”, seruku membentaknya dengan keras.

“Kenapa? Lawan saja aku! Oh,,,apa rumor itu benar? Kau belum mendapatkan kekuatanmu?”, Tanya Chavez menggodaku.

“Ada apa ini?”, Alaric keluar dari kamar.

“Lihat saja tembok itu!”, jawabku.

Api yang dikeluarkan Chavez membakar tembok dan perabotan yang ada disekitarnya.

“Kalau ibu tahu tentang ini, kau pasti akan mati Chavez!” ucapku dengan puas menakutinya. Chavez terlihat sangat khawatir.

Tembok itu langsung kembali seperti semula, dan perabotan yang sudah menjadi abu pun kembali seperti semula, bagaikan tidak pernah terjadi apa-apa.

“Hey Sultan! Kenapa kau menolongnya?”, ucapku dengan kesal.

Tiba-tiba Sultan muncul dari belakang Chavez. Dan tersenyum.

“Hey, sudah lama tidak bertemu kalian, Alaric dan Eleazar!”, sapa Sultan

“Iyah, terakhir kali kita bertemu saat ada pelantikan Diablo”, jawab Alaric.

Chavez bertingkah seperti dia tidak berdosa. Bahkan dia tidak berterima kasih kepada Sultan yang sudah menolongnya.

“Hey para lelaki! Ayo turun kami sudah menunggu kalian di taman belakang”, teriak bibi Minaj memanggil kami.

“Ayo kita kebawah, mereka sudah menunggu”, ajak Sultan.

Di taman, terliahat banyak keluarga besarku. Bahkan ada dari mereka yang tidak aku kenal. Terlihat Naira sedang berlari lari dengan sepupu-sepupuku yang masih semurannya.

“Hey Kak Eleazardan kakak Alar..!”, sapa Joaquin.

“Alaric”, sambung Alaric membetulkan

“Yah, benar, hha.. maaf aku lupa”, jawab Joaquin.

“Hai Joaquin!”, balasku. Joaquin adalah adik laki-lakinya Chavez, dia masih seumuran dengan Naira. Mungkin diantara sepupu yang lainnya, aku paling suka dengan dia. Dia sangat berbeda sekali dengan kakaknya yang sangat menyebalkan. Bila diibaratkan, Chavez dan Kayla tidak jauh berbeda.

“Kakak, ayo bermain bersamaku!”, ajak Joaquin sambil memegang bola dan menarik bajuku.

“Oh, maaf kakak harus menyapa yang lainnya. Main saja dengan Gavin ya? Nanti aku panggilkan Gavin”, ucapku.

Joaquin adalah anak dari paman Enrique, usianya juga masih seumuran dengan Joaquin dan Naira.

“Yah… baiklah, padahalkan aku ingin main dengan kakak”, ucap Joaquin dengan kecewa.

Aku memanggil Gavin dan menyuruhnya bermain dengan Joaquin.

Paman Enrique datang menghampiri kami, dan merangkul Alaric.

“Alaric! Ayo ikut paman. Aku akan memperkenalkan mu kepada seseorang”, ajak paman Enrique.

Wow! Ada seorang gadis yang sangat cantik sedang mengobrol dengan bibi Minaj. Ya tuhan, dia cantik sekali matanya sangat indah, senyumnya juga sangat indah ucapku dalam hati.

“Ini dia. Alaric kenalkan ini Adriana, Adriana ini Alaric”, ucap paman Enrique memperkenalkan mereka berdua.

Tiba-tiba terdengar suara keributan.

“Sudah jangan bertengkar!”, teriak Naira.

“Awas kau Enrique!”, ucap Gavin. Lalu Gavin mengangkat Joaquin dan melemparkannya ke meja. Joaquin membalasnya dengan melemparkan meja kea rah Gavin.

Lalu mereka berkelahi sampai bergulingan di rumput.

Aku langsung berlari mengambil Joaquin. Dan sultan mengangkat Gavin. Kami memisahkannya.

“Oh, ada apa ini?”, Tanya bibi Cathy ibunya Gavin dan paman Enrique.

“Dia tidak mau mengaku kalau dia kalah!”, jawab Joaquin sambil menunjuk Gavin.

“Tidak! Kau yang kalah!”, balas Gavin.

“Sudahlah, kalian orang dewasa tidak usah khawatir, ini hanya perkelahian antar anak kecil”, ucap Paman Eric ayahnya Gavin.

“Iyah, wajar kalau anak lelaki berkelahi”, tambah Chavez.

“Kalian ini! Mereka ini kan masih kecil”, balas bibi Cathy.

“Ya ampun, Gavin dahimu berdarah”, ucap ibu sambil mengobati luka Gavin.

“Ah, dasar anak laki-laki”, Kayla dan sepupuku yang perempuan berbisik.

“Ayo Gavin, main dengan kakak saja”, aku mengajak Joaquin ke kamarku sambil menuntunnya, dan Naira mengikuti dari belakang. Sementara Alaric masih berbincang-bincang dengan Adriana.

“Maafkan kakak ya Joaquin, kalau saja tadi kakak bermain denganmu, pasti tidak akan seperti ini”,ucapku kepada Joaquin, sambil memeriksa lukanya.

“Coba  saja tadi kau bermain denganku pasti tidak akan seperti ini”, tambah Naira.

“Ah, berisik, lagipula aku tidak suka permainan anak perempuan!”, jawab Joaquin.

“Sudah sudah, kalian jangan bertengkar juga”, aku memisahkan.

“Kakak, apa benar kakak belum mendapatkan kekuatan kaka?”, Tanya Joaquin.

“iyah, aku belum menemukan kekuatan khususku”, jawabku.

“Hmm, tapi aku yakin kalau kakak pasti lebih hebat dari Chavez!”, balasnya

“Iyah, aku juga yakin. Sebenarnya Chavez takut kalau kakak sudah menemukan kekuatan kakak, dia khawatir kakak akan mengalahkannya”, tambah Naira.

“Iyah, bahkan akan lebih hebat dari Alaric”, jawab Joaquin dengan sangat yakin.

“Hha,,, benarkah?”, balasku.

“Tentu saja!” jawab Naira& Joaquin.

“Sudah, lukamu sudah selesai aku obati”, ucapku pada Joaquin.

“Terima kasih kak, oh iyah! aku ingin memberikan ini kepada kakak”, Joaquin mengeluarkan sebuah gelang dari saku jas nya.

“Apa ini?”, Tanya ku.

“Aku mendapatkannya dari teman ayah, aku lupa lagi namanya. Aku mendapatkannya waktu berkunjung ke Romania. Dia memberikanku 2 gelang, yang satu aku pakai dan aku ingin memberikan yang satunya kepada kakak”, jawabnya.

“Wah! Keren sekali. Gambar apa ini?”, naira menekan gambar itu.

Lalu keluarlah semacam makhluk kecil bercahaya yang terbang.

“Ini adalah peri. Mereka bisa melakukan apa saja yang kita inginkan”, ucap Joaquin memberitahu.

“Benarkah?”, ucapku.

“Iyah, lihat saja ini”, Joaquin mengeluarkan miliknya dan menyuruhnya menggambar sesuatu.

“Wow! Keren sekali. El, bolehkah ini untukku saja?”, Tanya Naira merayuku.

“Tidak boleh! Ini untuk Eleazar. Dengan ini juga kita bisa berkomunikasi”, jawab Joaquin.

“Terimakasih ya Joaquin, kau sepupu terbaikku”, ucapku.

“Andai saja kau yang jadi kakaku, bukan Chavez”, Joaquin mengeluh.

“Hey kalian! Ayo cepat kebawah!” Alaric memanggil kami.

Peri dari gelang kami lagsung masuk kembali kedalam gelang. Kami segera kembali menuju ke taman belakang. Ternyata pestanya sudah selesai. Semuanya akan segera kembali pulang.

“Joaquin! Ayo kita pulang!”, ajak paman Enrique.

“Ayah, boleh tidak aku menginap disini?”, Tanya Joaquin memaksa.

“Jangan  macam-macam Enrique, ayo cepat!”, seru Chavez.

“Kau boleh kemari kapanpun kau mau Joaquin”, ucapku.

Joaquin masuk ke dalam kendaraan keluarganya. Dan Alaric mengantarkan Adriana masuk ke dalam kendaraannya. Adriana melambaikan tangannya kepada Alaric. Joaqui mengeluarkan kepalanya dari jendela dan berteriak,”Eleazar! Aku akan menghubungimu!”.

Saat di dalam kamar, aku bertanya kepada Alaric, “Hey, bagaimana? Kau menyukai gadis itu?”.

“Ah, sudahlah”, jawab Alaric.

Sepertinya dia malu untuk membahasnya.

“Sudahlah, tidur!”, ucapnya sambil mematikan lampu.

—to be continued—