Tag

, , , , , , , ,

Saat usiaku hampir 16 tahun keluargaku memutuskan untuk pindah ke kota ini. Kota yang mungkin bisa di bilang aneh, tetapi ini semua nyata. Rumahku di kota ini memiliki halaman yang luas, dan memang setiap rumah di wilayah ini pun begitu. Tidak ada rumah rumah yang berdekatan seperti di kompleks kompleks rumahku yang dulu.

“Yeah! Akhirnya kita sampai juga!!! Hey, bangun anak bodoh!”, teriak Kayla membangunkanku. Sepanjang perjalanan aku hanya duduk di dalam mobil, mendengarkan music dari Handphone ku. Satu hal lagi, aku mempunyai hobi untuk menggambar makhluk-makhluk mystic. Aku mendapatkan hobi ini semenjak keluargaku tinggal di Coven Hill. Sesekali aku pernah berfikir, apakah ini hobi atau mungkin bisa dibilang semacam kemampuan aneh yang aku miliki. Kadang, secara tiba-tiba saja aku menggambar makhluk-makhluk aneh ini. Dan aku juga sering mendapatkan semacam penglihatan tentang makhluk-makhluk aneh ini. Karena beberapa orang dari The Ipswitch’s mempunyai semacam kemampuan.

Dari “jenis” ku ini, yang disebut Diablo mungkin hanya aku dan kakak laki-laki ku, Alaric yang bias melihat tanda-tanda “makhluk” selain manusia. Sepanjang perjalanan dari mulai memasuki wilayah Coven Hill ini, aku melihat banyak sekali hal-hal aneh. Seperti bulu-bulu berwarna putih yang bercahaya beterbangan, ada semacam makhluk kecil, yang terbang kesana kemari sambil bernyanyi. Aku merasa sedikit aneh, tetapi Alaric menyuruhku diam saja. Sambil tersenyum.

Akhirya aku sampai juga di rumah baruku ini. Saat turun dari mobil, aku melihat anak-anak remaja seumuranku sedang bermain di taman. Mereka seperti sedang melihat kearah kami, seperti ada sesuatu yang sedang mereka pikirkan.

Wow, aku terkejut! Ternyata banyak sekali perbedaan atara mereka. Ada yang berwajah asia, kaukasia, berkulit hitam, middle west, dll. Dan tentu saja yang tidak kalah membuatku aneh adalah dandanan dan cara berpakaian mereka yang aneh.

“Alaric! Kayla! Bantu ibu mengangkat barang-barang ini!” pangil ibuku. Kayla, dia adik perempuanku yang berumur 13 tahun, tetapi kemampuannya sudah hampir menyamai kemampuanku, bahkan mungkin melampauiku. Memang untuk wanita dari “jenisku” ini, mereka akan mendapatkan kekuatannya lebih awal.

Dari tadi aku terus saja bercerita tentang kemampuan, tetapi aku belum menjelaskannnya. Tetapi nanti juga kalian akan mengetahuinya. Sebenarnya aku mempuyai 2 orang adik perempuan, Kayla dan yang 1 lagi bernama Naira dia berumur 6 tahun bulan ini.

Akhirnya semua barang-barang ini sudah masuk semua kedalam rumah. Lalu ayah mulai mengucapkan mantra untuk memanggil hewan mystic miliknya. Hewan itu sejenis naga, tetapi tidak semua orang bisa melihatnya. Dia membawakan semua barang-barang kami dari rumah kami yang dulu.

Ibu mengijinkan kami untuk menggunakan kemampuan khusus kami di dalam rumah. Ya! Masing-masing dari aggota The Ipswitch’s memiliki kemampuan khusus, kami memilikinya saat berusia 16. Tetapi seperti ada suatu masalah dalam diriku. Karena sampai saat ini aku belum menyadari apa kemampuan khususku. Kami adalah sejenis makhluk sihir. Dan kami memiliki roh hewan suci masing-masing.

Alaric kakakku, usianya 18 tahun dia berpenampilan sangat keren. Tingginya sekitar 178cm, tubuhnya bagus karena dia sering berolah raga. Rambutnya berwarna coklat dengan style berdiri keatas dan matanya berwarna hazel, tetapi sebenarnya warna rambut ataupun mata itu tidak menjadi penting, karena kami bisa merubahnya sesuai dengan keinginan kami. Disekolah kami yang dulu, dia selalu menjadi incaran para wanita. Sikapnya seperti terlihat dingin kepada semua orang, tetapi sebenarnya dia sangat baik kepadaku. Dia selalu membantuku menghadapi masalah. Sepertinya kemampuannya, dia memiliki semua kekuatan super. Ya! Seperti kekuatan super yang di cerita-cerita. Sebenarnya itu tidak sepenuhnya khayalan.

Dan bisa berlari secepat kilat, super kuat, dan dia juga sangat pintar. Sebenarnya semua The Ipswitch’s mempunyai semua kemampuan seperti itu. Kelebihan lainnya, dia bisa masuk dan mempengaruhi pikiran orang lain. Juga bisa mengidentifikasi orang lain dengan sangat detail. Dia mempunyai roh suci singa.

Kayla, dia berumur 13 tahun. Tetapi karena kemampuannya, dia terlihat seperti seumuranku. Bahkan aku tudak tahu yang mana bentuk aslinya. Jadi, aku selalu memanggilnya plastic(palsu). Kemampuan yang dia miliki yaitu bisa menduplikasi dirinya dan bisa merubah duplikatnya menjadi siapapun yang dia inginkan. Dan dia juga memiliki kemampuan yang sama dengan ibuku, yaitu regenerasi. Dia mempunyai roh suci angsa, itu membuatnya bisa mengerti bahasa semua jenis burung.

Naira, walaupun usianya masih 6 tahun, tetapi kemampuannya sudah terlihat. Dia bisa mempengaruhi perasaan dan pikiran siapapun yang sedang berada disekitarnya. Dia juga bisa telepati dan telekinetis. Dia mempunyai roh suci kucing.

Ayahku, dia mempunyai kemampuan penyembuhan yang sangat hebat. Itulah yang membantunya dalam pekerjaannya sebagai dokter, terutama kemampuannya untuk menghipnotis siapapun. Ayah memiliki roh suci ular.

Ibuku, kemampuannya beregenerasi membuat dia tidak membutuhkan bermacam-macam kosmetik, hha… memang konyol kedengarannya. Dan dia juga bisa meramalkan masa depan, dan itulah yang membuat keluarga kami tidak pernah kekurangan uang. Karena ibu menggunakannya untuk meramalkan pasar saham. Ibu juga bisa telekinetis. Dan memiliki roh suci cheetah.

Sedangkan aku, hmm.. itulah masalahnya, aku belum mengetahui kemampuanku sampai hari itu.

Alarm jam di kamarku berbunyi, aku dan Alaric langsung terbangun. Dari dulu, aku selalu satu kamar dengan Alaric. Kami semua sudah siap untuk memulai hari baru ini.

“It’s a brand new day! Hari yang baru, lingkungan baru, sekolah baru dan teman-teman baru! Aku harap hari ini akan menyenangkan” ucapku dalam hati.

“Hey! Cepat bodoh! Ibu sudah meanggilmu dari tadi!, dan kau Alaric.. ayo kita kebawah, ibu sudah menunggu untuk sarapan”, seru Kayla kepada kami. Dia berdiri di depan pintu kamarku.

Kami memang selalu bertengkar, jadi sikapnya kepadaku sangat berbeda dengan sikapnya kepada Alaric. Dia selalu bersikap sangat manis dihadapan Alaric.

Aku keluar kamar, sambil mengangkat tasku dan memasangnya di bahu kananku, dan dengan sengaja aku menyenggolkannya pada Kayla dengan keras. Hha.. sebenarnya itu duplikatnya, jadi aku tidak segan-segan memukulnya.

Aku menuju meja makan sambil memegang tas Aku duduk dan mulai mengambil roti dan mengoleskan selai cokelat diatas rotiku. Aku duduk di sebelah Alaric dan tepat dihadapan Kayla. Kayla yang asli sedang duduk sambil berdandan di meja makan.

“Kayla, jangan berdandan di meja makan!”, ucap ayah kepadanya.

“Heuh… baiklah”, ucap Kayla dengan kesal.

“Ini Alaric, aku sudah menyapkan roti untukmu”, ucap Kayla sambil memberikan roti untuk Alaric dengan senyum palsunya.

“Heuh, dasar! Plastic!(palsu)”ucapku didalam hati sambil memandang sinis kepada Kayla.

“Hihihi…”, Naira adik kecilku tertawa.

“Hey Naira, kenapa kau tertawa? Apakah sibodoh itu mengatakan sesuatu? Beritahu aku Naira!”, ucap Kayla.

“Plastic!”, ucapku dengan tegas pada Kayla.

“Apa sekali lagi kau bilang?”, ucap Kayla dengan kesal, sambil beranjak dari kursinya dan memukulkan tangannya ke meja makan.

Aku berdiri dan memukulkan tanganku ke meja makan. “Plaaaasssstttiiiic!”, ucapku dengan perlahan. Lalu aku kembali duduk. Tiba tiba Kayla melemparkan pisau kepadaku. Dan sekejap, pisau itu tiba-tiba berhenti dan melayang diudara.

“Cukup! Berhenti kalian!”, teriak ibuku.

“Tapi dia yang mulai duluan bu!”, seru Kayla.

“Karena kau bersikap sangat menjijikkan!”, balasku.

Wuush! Tiba-tiba Kayla mengeluarkan duplikatnya di belakangku, dan melingkarkan tangannya yang sedang memegang pisau di dileherku. Dengan sekejap Alaric menarik tubuh duplikat Kayla, dan langsung melemparkannya kearah samping kanan Kayla. Dan pisau yang dipegang oleh duplikat Kayla itu menggores pipi kanan Kayla. Dengan sekejap luka itu langsung hilang. Dan duplikat Kayla dengan kerasnya menghantam jendela rumah kami hingga pecah.

“Alaric! Kenapa kau selalu membantu orang tidak berguna itu?”, Tanya Kayla dengan kesal.

“Itu tadi sangat berbahaya Kayla!”, jawab Alaric sambil memandang mata Kayla. Akhirnya Kayla diam. Aku tersenyum sinis dan mencibirnya.

“Ibu! Kau lihat itu? Dia sangat menyebalkan!”, seru Kayla.

“Sudahlah! Kalian ini selalu saja bertengkar sejak usia 3 tahun, berapa kali ayah harus memperbaiki perabotan rumah yang rusak karena kalian? Rumah kita yang dulu juga sudah kalian hancurkan. Cobalah bersikap lebih dewasa, ini lingkungan baru!”, ucap ayah menasihati kami.

“Ayo cepat kalian pergi ke sekolah, dan ingat jangan membuat masalah di hari pertama!”, ucap ibu sambil memasangkan dasi dan merapikan kemeja ayah dan memberikan tas sekolah kepada Naira.

“Ayo kita pergi sekarang!”, ajak Alaric sambil menarik tanganku.

“Hey Alaric! Tunggu aku!” ucap Kayla dengan manja.

Aneh padahal dia pergi ke sekolah dengan mobilnya sendiri. Walaupun kami bersekolah di tempat yang sama, tetapi kami pergi masing-masing. Oh ya, Kayla dia mendapatkan program akselerasi. Itu sebabnya dia bisa satu sekolah dengan aku dan Alaric. Heuh! Walaupun menyebalkan untuk mengakuinya, tetapi dia memang cerdas. Sedangkan Naira, diantar oleh ayah karena sekolahnya berbeda.

Aku pergi ke sekolah bersama Alaric. Memang sepertinya kami kakak beradik yang sangat akrab. Alaric selalu melindungiku. “Coven West High” itu yang tertulis di gerbang sekolah. Saat turun dari motor, mata orang-orang tertuju pada Alaric. Memang dia selalu saja lebih menjadi pusat perhatian dari pada aku. Tetapi itu tidak masalah, karena Alaric tidak pernah sombong padaku dengan semua itu. Penampilannya yang selalu terlihat keren, berbeda dengan gayaku yang selalu memaai jaket dan menggunakan headset untuk mendengarkan musik. Dan agak sedikit cuek.

Dia merangkul pundakku dan kami berjalan masuk menuju gedung sekolah. Memang, mungkin hanya Alaric yang aku ijinkan untuk menyentuhku, karena aku tidak suka disentuh atau menyentuh orang.

Tiba-tiba ada seorang anak laki laki mendekati kami. Dia langsung merangkul pundakku dan berkata, “Hi! Kalian pasti murid baru ya? Selamat datang di Coven West, kenalkan namaku Cloud, tapi kalian bisa memanggilku Cloud”. Aku hanya meliriknya dan tersenyum dan mengatakan “iya” padanya sambil menggeserkan badanku agar tanggannya jatuh dari pundaku. Karena aku tidak suka disentuh ataupun menyentuh orang. Bukannya sombong, tetapi aku selalu merasa aneh kalau menyentuh atau disentuh oleh orang lain.

“Maaf, kami harus segera pergi ke ruangan kepala sekolah”, kata Alaric dengan nada yang dingin, sambil menarik tanganku dan berjalan.

“aku bisa menunjukkan jalannya!”, jawab Cloud.

“tidak perlu, kami sudah tahu”, balas Alaric. Aku hanya menoleh ke belakang dan tersenyum kepada Cloud.

“Sepertinya dia anak yang baik, kau mendapatkan teman pertamamu”, sahut Alaric kepadaku.

“ya, aku juga berfikir begitu”, jawabku. “Alaric, apa yang kau lihat dari dia?”, tanyaku. Karena Alaric bisa mengidentifikasi orang dalam sekejap.

“Dia orang yang baik, nanti juga kau akan mengtahuinya”, jawab Alaric.

“Hey, bagaimana denganmu? Apakah disini kau akan mulai berteman dengan manusia-manusia ini?”, tanyaku.

“Mungkin”, jawabnya.

“Aku harap begitu! Karena bergaul dengan mereka juga tidak begitu buruk”, seruku.

“yah.. baiklah, I’ll try. Hey! Tapi kau jangan terlalu dekat dengan mereka!”, jawabnya.

Kami pun sampai di ruang kepala sekolah. Ternyata di dalam sudah ada ayah dan ibu. Ternyata kepala sekolah adalah teman ayah saat sekolah dahulu. Dan dia mengetahui tentang semua rahasia keluarga kami.

“Wow! Keren” teriakku, karena melihat burung phoenix di sebelah mejanya.

“Ada apa?”, Tanya kepala sekolah.

“Hey! Maaf aku agak terlambat”, tiba-tiba Kayla masuk, dengan senyum manis palsu di wajahnya.. Dengan dandanannya yang sangat modis.

Setelah beberapa lama pembicaraan dengan kepala sekolah, akhirnya kami pun disuruh masuk ke dalam kelas.

Aku sampai di depan pintu ruang kelasku. Dari luar terdengar suara guru yang sedang mengajar. Aku mulai mengetuk pintu, dan masuk ke dalam kelas Bahasa Spanyol. Tuan Kim guru Bahasa Spanyol kami, menyuruhku duduk di bangku tengah yang kosong, ternyata aku satu kelas dengan anak yang tadi. Siapa ya namanya??? Oh iya, Cloud!. Bangku yang terletak antara Cloud dengan gadis asia. Cloud duduk tepat di sebelah jendela.

Sambil menundukkan kepalaku dan memegang tas di bahu sebelah kananku dengan tangan kanan, sementara aku memasukkan tangan kiriku ke dalam jaket. Aku berjalan perlahan mendekati kursi itu sambil melihat anak-anak di dalam kelas.

Saat aku duduk, Cloud langsung mengajakku mengobrol.

“Hi! Kita bertemu lagi!”sahut Cloud.

“Oh. Hha iya, kau anak yang tadi kan?”, jawabku sekenanya.

“Iyah, kau masih ingat!, oh ya.. tadi kau belum mengatakan namamu”, tanya Cloud padaku.

“Oh, namaku Eleazar. Kau bisa memanggilku El, atau apapun yang penting tidak merugikan bangsa dan Negara (hha.. sedikit lelucon aneh tiba-tiba keluar dari mulutku)”, jawabku.

“hha.. baiklah”, jawabnya.

“Hey Cloud! Kau selalu saja rebut didalam kelas, jangan mempengaruhi anak baru itu!”, ucap Mr. Kim memarahi Cloud.

Tetapi Cloud tak menghiraukan ucapan Mr. Kim itu.

“maafkan aku ya..”, bisikku kepadanya karena aku merasa bersalah.

“tidak apa-apa, sudah biasa kok”, jawabnya sambil tersenyum padaku.

“Hey! Oh iya, siapa namamu? Senang berkenalan denganmu teman sebelah bangku yang baru”, Tanyaku sopan mengajaknya berkenalan.

Tetapi gadis itu hanya melirikku dengan tatapan acuh dan berkata “shut up and listen the teacher!”, ucapnya padaku dengan aksen asianya. Kesan pertama yang munculdalam benakku tentang gadis itu adalah “SOMBONG!”.

“Hey! Jangan berbicara dengannya, ia tidak akan menghiraukanmu!”, bisik Cloud padaku. Aku hanya membulatkan bibirku membentuk huruf O dan mengangguk-anggukkan kepalaku seakan-akan mengerti apa maksud dari ucapan Cloud. Tanpa terasa bel istirahat berbunyi.

“Baiklah, cukup kelas untuk hari ini, dan selamat beristirahat!” ucap Mr. Kim kepada kami.

Kami pun besiap meninggalkan kelas.

“Hey! Yang tadi itu kakakmu ya?”, Tanya Cloud.

“Yang mana?” aku balik bertanya kepadanya, jujur aku tidaj begitu mengerti maksud dari ucapannya.

“Itu, yang tadi berjala disebelahmu saat kita pertama kali bertemu”,jelasnya menerangkan padaku.

“Maksudmu Alaric?” ucapku menerka-nerka.

“Hmm… aku tida tahu namanya, ya apa dia kakakmu?”

“Iya, Alaric itu kakakku. Memangnya kenapa?”

“taka pa-apa. Hanya brtanya”, jawabnya.

Tiba-tiba gadis asia itu langsung mendekati kami. “Hey, namaku Leeyoorin. Tapi kau bisa memanggilku Yoorin”, ucapnya dengan senyum manis palsu.

Ya, aku mengetahui itu senyuman palsu, karena setiap hari aku melihat senyum palsu di wajah Kayla si plastic. Dan juga Cloud memandangnya dengan aneh, “Aneh! tidak biasanya dia seperti itu”. Mungkin itulah yang dia katakana di dalam hatinya.

Saat keluar kelas, tiba-tiba Alaric sudah ada di depan pintu kelasku.

“Ayo, kita makan siang!”, ajaknya padaku.

“Oh, baiklah. Tapi aku sudah akan makan siang dengan Cloud”, jawabku.

“Anak ini maksudmu? Ya sudah, biarkan saja dia ikut dengan kita”, ucapnya dengan sinis. Dia memang selalu bersikap seperti itu kepada orang lain, untuk menjaga jarak dari orang-orang.

“Benarkah aku boleh ikut?”, Tanya Cloud tidak percaya.

“Ayo Cloud!”. ajaku. Sambil berjalan menuju kantin.

“Aku sudah mengatakannya kepadamu, janga terlalu dekat dengan orang baru”, suara Alaric memasuki pikiranku.

“Maafkan aku. Tapi aku juga juga ingin berteman”, ucapku dalam hati menjawab perkataan Alaric.

Akhirnya kami sampai di kantin. Setelah kami mengambil makanan, kami duduk di sebuah meja dekat jendela. Saat kami sedang barumulai untuk makan, Tiba-tiba datang 3 orang gadis cantik.

“Hey anak aneh! Ini mejaku, menyingkir dari sini!”, ucap gadis berambut pirang pada Cloud.

“Iya! Kami sudah sejak kelas 4 duduk disini!”, ucap gadis yang lainnya.

Sementara Alaric dengan dinginnya tetap saja memakan makan siangnya.

“Hey! Memangnya ada tulisan namamu di bangku ini?”, balasku padanya.

“Kau ini! Berani sekali! Kau anak baru kan?”, balasnya.

“Sudahlah. Ayo kita cari meja yang lain saja”, ajak Alaric.

“Hey! Kalau kalian ingin duduk bersama kami disini tidak apa-apa kok”, seru salah satu dari mereka setelah melihat wajah Alaric.

“Tidak terima kasih!”, sahut Alaric dengan nada yang datar.

Semua anak-anak di kantin keheranan melihat Alaric yang menolak mentah-mentah ajakan dari Forbes.

“Kami tidak sudi duduk dengan manusia-manusia seperti kalian!”, tambahku. Sambil berjalan menuju bangku yang kosong.

Tiba-tiba Kayla datang menghampiri mereka. Dan duduk bersama mereka.

“Hi Forbes! Maaf aku sudah membuat kalian menunggu”, ucapnya keapada mereka.

“Sangat cocok! Plastic-bertemu dengan plastic lainnya!” ucapku dengan sengaja.

“Hey! Ada si bodoh disini!” ucapnya.

“Kau kenal dengan mereka?” Tanya gadis berambut pirang pada Kayla.

“Iyah, mereka itu kakakku”, jawab Kayla.

Gadis itu tersenyum licik sambil melirik kami.

-to the next stories-